Lahir pada 18 September 1965 di tanah Banyumas, Titut Edi Purwanto menempuh jalan kesenian yang membumi dan tidak berjarak dari kehidupan kaum tani. Sehari-hari ia mencangkul sawah, merawat tanah, dan dari lumpur pedesaan itulah lahir karya seni yang menyengat kesadaran publik.
Bagi sebagian orang, gayanya kerap dinilai nyeleneh dan eksentrik. Namun di balik kebebasan ekspresinya, Titut memiliki kepedulian mendalam pada pelestarian tradisi Banyumasan yang terancam punah oleh arus modernitas. Pada tahun 2006, ia mendirikan Padepokan Seni Cowong Sewu di Desa Pangebatan, Karanglewas, sebagai ruang terbuka bagi siapa saja untuk belajar dan berkesenian.
Titut menolak mengurung seni di ruang galeri yang mewah dan steril. Baginya, seni adalah peristiwa sosial yang harus bergetar di kebun pisang, di pelataran tanah liat desa, hingga di pemakaman, tempat manusia diingatkan kembali pada asal mula dan akhir perjalanannya.